Tips Menilai Kepribadian Orang

- Bagaimana menilai kepribadian seseorang? -
Dengan mudahnya beberapa orang membuat definisi dan bahkan menjadikannya buku atas apa yang mereka pelajari tentang perilaku segolongan, seperti wanita dan pria misalnya. Seperti juga postingan saya sebelumnya, ‘Menilai Kepribadian#1‘, yang saya comot begitu saja dari sebuah email yang datang kepada saya. Turn out email yang isinya ‘just for fun‘ itu mengusik perjalanan saya sepanjang hari ini. Apakah memang kita perlu untuk menilai kepribadian orang?
I think I didn’t put it right. Kata ‘menilai’ bisa jadi sangat denotatif, yang menjelaskan arti sesungguhnya dari kata itu. Bila kita ‘menilai kepribadian’ seseorang, maka jawabannya bisa sangat jelas dan singkat.
“Menurut loe gimana kepribadiannya si Anya?”
“Jelek. Dia tukang ngadu sama bos.”
Itulah sepenggal percakapan yang pernah saya dengar di lift. See? Sangat jelas dan singkat. Tidak ada ruang untuk membela diri bila anda sedang dinilai orang lain. Hal ini mungkin berdasar pengalaman hidup saya yang belum pernah mendengar percakapan satu ini.
“Menurut loe gimana kepribadiannya Sabrina?”
“Jelek. Dia tukang gosip, tapi…….,”
Nah, itu dia! Kata ‘tapi’ itu yang belum pernah saya dengar bila seseorang sedang menilai kepribadian orang lain. Di lain kesempatan, ada beberapa orang yang menjawab based by number.
“Menurut loe gimana kepribadiannya si Heru?”
“10! Orangnya baik banget.”
Saya berpikir, mungkin dari skala 1 – 10, angka 10 itu menandakan hal yang paling baik. Oh, berarti kepribadiannya sempurna.
Macam-macam cara orang menilai kepribadian seseorang, dan penilaian itu mayoritas mengusung azas subyektifitas yang tinggi, bukan obyektifitas sodara-sodara. Pernah suatu waktu saya ditanya tentang pendapat saya tentang kepribadian seorang sahabat saya.
“Lee, menurut loe gimana kepribadiannya si Reza?”
“Hmmm……, gimana ya…. Gw selalu membayangkan warna abu-abu kalau melihat dia.”
Maksudnya adalah kepribadian beliau bagi saya gak jelas, and for the record tidak ada kata ‘tapi’. Reza orangnya baik, suka mentraktir, tidak sombong, suka minjemin duit (sama orang lain sayangnya, bukan saya), dan suka membagikan rahasia orang yang dititipkan kepadanya hanya pada saya (hehehe…..). In the end ketika saya menjawab pertanyaan teman saya tentang kepribadian si bapak satu itu, saya jadi merasa bersalah setelahnya. Why? Why do I feel this way? Pertanyaan ini bermain-main dalam pikiran saya untuk beberapa saat lamanya, sampai pada hari itu. Hari dimana Maya, teman sebelah kantor saya, bercerita tentang image saya dimata rekan kerjanya yang happens pernah ngobrol sama saya sambil nungguin kantor kita buka – (yah, kebanyakan dari orang-orang di gedung saya bernasib sama, harus bangun lebih pagi dan sampai lebih cepat daripada resepsionisnya!) -
“Lee, katanya loe pernah ngobrol sama Pak Febri dari kantor gw ya?”
“Oh, Pak Febri. Iya, pas nungguin kantor dibuka.”
“Dia ternyata baru tahu kalo kita berteman.”
“Oh, really?
“Tadi dia nanya, cewek kantor sebelah yang suka pake baju hitam itu teman gw apa bukan. Kok ya senengnya pake baju hitam terus.”
Dari sini mulai ada sesuatu yang rasanya menggelitik saya.
“Maksudnya?”
“Emangnya loe suka warna hitam ya?”
“Hmm…, gak juga sih. Emang kenapa?”
“Ya…, gak apa-apa. Tapi kenapa juga warna baju loe harus hitam terus gitu? Gak suka warna lain?”
“Suka, tapi kebetulan aja kali ya gw milihnya banyak hitam.”
“Coba deh, pilih warna yang lain. Loe kelihatannya gimana gitu, gelap….,” kata Maya. Saya cuma mengangguk-angguk. Hmm….., rasanya ada something wrong with this conversation.
Untuk anda yang sepertinya kurang mengerti, intinya Maya mau ngasih tahu bahwa saya, dengan baju-baju berwarna hitam saya, menjadi sangat dikenali orang dan mungkin memicu orang lain untuk leluasa menyimpulkan sebuah image tentang saya – hanya berdasar pada warna baju yang biasanya saya pakai!
Orang yang bijaksana pasti berpikir saya dan baju-baju hitam saya gak penting untuk dipikirin, yang perhatian mungkin mikirnya saya menjalani hari-hari dengan berkabung karena diselingkuhi pacar, bahkan mungkin ada sebagian orang yang berpikir saya buta warna sehingga semua warna terlihat sama aja jadinya – hitam, sok mau kelihatan kurus, anggota sekte pengikut nenek sihir, atau malah – berkepribadian gelap.‘Oh…., dia orangnya seperti ini…,’ PADAHAL BUKAN!! Bukan sama sekali!! Itu dia. Dengan hanya bermodalkan pakaian anda sukses menampilkan image yang sekiranya merupakan kepribadian anda dan membuat orang menyimpulkan,
Terus terang saya jadi senewen. Ternyata sangat tidak enak rasanya bila kepribadian anda dinilai! Bukan performa kerja, profesionalitas ataupun penampilan anda, tapi KEPRIBADIAN ANDA. Memangnya siapa anda semua menilai kepribadian saya? Apakah anda semua kenal dengan saya? Kenal dengan saya secara pribadi, gitu? Mungkin itulah yang ingin diteriakkan seseorang saat mendengar dirinya dinilai, because with all due respect, tidak ada orang yang benar-benar cuek dengan penilaian orang atas dirinya!
Saya jadi teringat dengan semua orang yang pernah kepribadiannya saya nilai. Saya jadi merasa bersalah dengan mereka semua, karena banyak dari mereka tidak saya kenal secara pribadi, tidak kenal sama sekali, dan bahkan banyak di antaranya adalah teman-teman saya. Pernah saya berpikir demi melihat seorang pria yang saya sering saya jumpai di busway mengenakan baju yang sama selama tiga hari berturut-turut. ‘Ih, ‘ni cowok pasti habis nginap di rumah pacarnya dan gak pulang-pulang tiga hari! Gak tahu malu. Beli baju kek, balik sebentar kek ke rumahnya buat ganti baju. Vulgar amat pacarannya!’ Tuh, itu tuh penilaian saya atas cowok itu. Padahal bisa aja dia habis kemalingan, dan yang tersisa dari harta bendanya hanya pakaian yang menempel di tubuhnya. Bisa aja kan? Ingin rasanya saya menemuinya dan meminta maaf (apalagi kalau ternyata memang penilaian saya salah).
Saat ini saya berpikir, rasanya memang tidak benar bila kita ‘menilai kepribadian’ seseorang. Mungkin akan lebih bijaksana bila kita ‘mengenali kepribadian’ seseorang. Kita bisa belajar mengerti tentang setiap tindakan yang dia lakukan dan alasan di balik tindakan itu. Bukan menjudge-nya dengan kriteria baik – buruk, terang – gelap (seperti yang saya dapatkan), atau bahkan based by number. Kalau anda baik maka nilai anda 8 – 10, kalau anda luar biasa jahat mungkin nilai anda nol.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan pesan

Selamat data di Hanyauntukanda123.blogspot.com, Jangan Lupa untuk beri Komentar Ya. Terima Kasih